
JIKA INGIN BESAR, HIMPUNLAH KEKUATAN!!!
"Dan Allah telah menjanjikan kepada
orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa
Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi ini sebagaimana Dia telah
menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan
bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhoi. Dan Dia benar-benar akan
mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.
Mereka menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi
barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang
yang fasik"(QS.
An-Nuur: 55)
Ayat tersebut merupakan ayat
motivasi yang di dalamnya Allah Swt.
telah berjanji kepada orang beriman dan mengerjakan amal sholeh bahwa
diantara mereka akan bermunculan pemimpin yang akan berkuasa di muka bumi ini.
Janji Allah Swt. merupakan sebuah kepastian yang tidak akan pernah
diklarifikasi. Sejarah telah mencacat bahwa terdapat banyak orang beriman lagi
sholeh memimpin umat dari kalangan Nabi dan Rasul maupun dari kalangan
pengikutnya. Sebut saja Abu Bakar Shiddiq, Umar Bin Khattab, Usman bin Affan,
Ali Bin Abu Thalib, Umar Bin Abdul Aziz, Muhammad Al Fatih, Salahuddin Al
Ayyubi, Salman Al Farisi, Khalid Bin Walid, dan masih banyak lagi, mereka
adalah pemimpin-pemimpin shaleh bukan dari kalangan nabi dan rasul tetapi mampu
mengimani dan mengamalkan ajaran-ajarannya.
Kisah-kisah pemimpin beriman dan
sholeh dalam sejarah bukanlah narasi biasa. Kekuasaan yang diraih bukan juga
dengan cara biasa, mereka harus melawan berbagai kekejaman dari penguasa
diktator dan otoriter pada masanya. Perlakuan yang mereka dapatkan tidaklah
sesederhana yang kita bayangkan, mereka dicaci, dikejar-kejar, dipenjarakan,
atau bahkan mendapat sayatan pedang dari musuh.
Dari itu kita dapat membayangkan bahwa untuk memperoleh kekuasaan
tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Ternyata ada banyak tahapan yang
mereka lalui sebelum akhirnya menumbangkan rezim penguasa zhalim kemudian meraih
kemenangan dan berkuasa.
“Dan Kami
hendak memberikan karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi, dan hendak
menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi
(bumi), dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami
perlihatkan kepada Fir’aun, Haman dan balatentaranya apa yang selalu mereka
khawatirkan dari mereka itu” (QS Al
Qashash:6)
Kemenangan tidak diraih dengan
kuantitas dan kualitas pendukung yang rendah. Untuk memenangkan peperangan
tentunya tidak dihadapi pemimpin seorang diri, ada banyak kekuatan yang berada
di belakangnya, itulah yang menjadi faktor kemenangan. Lihatlah kondisi saat
Perang Badar, dengan jumlah pasukan muslim yang sedikit dibanding pasukan lawan
berbanding satu banding tiga tetapi di akhir peperangan ternyata pasukan muslim
memperoleh kemenangan, ini berarti yang menjadi faktor utama dari kemenangan
itu bukanlah dari kuantitas tetapi kualitas pasukan yang hebat dan keimanan
yang mereka miliki. Orang-orang yang paling kuat ditempatkan di bagian depan
untuk memimpin pasukan dibelakangnya gunanya agar menumbuhkan optimisme pasukan
di belakangnya dan juga barisan tidak akan mudah ditembus oleh lawan. Bayangkan
jika orang-orang lemah ditempatkan di depan, belum menyerang sudah mundur
duluan. Mungkin kita berpikir faktor kuantitas yang tinggi menentukan
kemenangan, akan tetapi realita Perang Badar telah membuktikan dan mengubah
paradigma.
Nah, sekarang mari realita sejarah
itu kita bawa ke kampus. Namun sebelumnya kita perlu tahu kondisi kampus pada
umumnya. Ada banyak kebaikan-kebaikan yang muncul dari kampus namun tidak
sedikit juga kemungkaran muncul di tengah-tengah masyarakatnya. Sebagai contoh
anarkisme, tindakan asusila, korupsi, dan lain-lain. Kampus oleh beberapa orang
dikatakan sebagai miniatur peradaban dan merupakan cita-cita kita semua dimana
masyarakat di dalamnya juga beradab. Di kampus juga terdapat banyak lembaga
atau organisasi yang ikut mewarnai pola pikir masyarakatnya baik itu
“kekiri-kirian” sampai “yang paling kanan”, salah satunya adalah Lembaga Dakwah
Kampus yang dianggap sebagai lembaga “pertengahan”. Pertengahan yang dimaksud
yaitu tidak memihak pada keduanya namun punya prinsip dan warna sendiri dalam
merealisasikan kebenaran melalui referensi utama umat muslim, Al-Qur’an dan
As-Sunnah.
Keberadaan Lembaga Dakwah Kampus
(LDK) sebagai lembaga formal atau non formal di kampus merupakan jawaban dari
kegelisahan atas kekhawatiran yang terjadi di masyarakat kampus. Dengan visi
dan misi yang jelas diharapkan mampu mengubah kondisi tersebut menjadi keadaan
yang lebih baik. Namun di beberapa kampus keberadaan LDK belum dikatakan
sebagai lembaga yang diperhitungkan di kampus karena perannya yang masih belum
maksimal ditengah-tengah masyarakat kampus.
Sistem
kelembagaan yang jelas dan terarah merupakan ciri dari Lembaga Dakwah Kampus.
Keberagaman kondisi kampus juga menyebabkan pola dakwah LDK harus beragam
tetapi tentunya tetap berada pada jalur kebenaran dan koordinasi pusat. Ibarat
tanah di sebuah lahan, ada tanaman yang cocok di tanami dan ada yang tidak
cocok, dan tidak bisa dipaksakan jika tidak cocok, semuanya tergantung pada kondisi
ekosistemnya. Jika kita mengkaji Siroh Nabawiyah, disitu diterangkan bahwa
Rasulullah pun menerapkan pola dakwah yang beragam di beberapa tempat dan
sesuai dengan objek dakwah beliau dalam kaitannya menyebarkan Islam namun tetap
memiliki jalur koordinasi yang tidak berbeda (Allah SWT., Malaikat Jibril,
Rasulullah, Umat).
LDK Al Jami’ adalah salah satu
lembaga formal yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa di Universitas
Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar sejak tahun 2006 silam. Berdasarkan
sejarah itu, UKM LDK Al Jami’ terbilang muda dibanding UKM lainnya yang telah
lama berdiri. Namun kiprahnya di kampus UIN Alauddin sangat nampak di kalangan
mahasiswa maupun birokrasi kampus lewat agenda-agenda syi’arnya. Agenda-agenda
tersebut yang membuat lembaga ini menjadi dinamis.
Berikut ini beberapa biro dan
departemen yang ada dalam UKM LDK Al Jami’: Departemen Kaderisasi dan
Pengembangan SDM, Departemen Syiar, Departemen Kajian Strategis antarlembaga,
Biro Kesekretariatan, Biro Dana dan Usaha. Dari beberapa Depertemen dan Biro
tersebut, kesemuanya membutuhkan banyak personil, ide, dan eksekutor. Kuantitas
tinggi dalam sebuah lembaga memang penting untuk penyaluran amanah, semakin
banyak amanah yang ditetapkan maka semakin banyak butuh personil. Namun
faktanya, lembaga atau organisasi yang besar tidak memiliki banyak personil.
Sebuah lembaga yang besar tidak membutuhkan pengurus yang banyak untuk bergerak
tetapi membutuhkan kualitas pengurus yang hebat untuk menggerakkan massa
seperti halnya putaran pusaran air dalam sebuah tempat penampung, semakin kuat
putarannya semakin besar pusaran yang ditimbulkan. Begitupula di LDK Al Jami’,
hanya orang-orang kuat dan hebat yang dijadikan sebagai pengurus, gunanya agar
dapat memimpin dan menggerakkan massa untuk mendukung aksi-aksi dakwah. Kekuatan
dan kehebatan itu lahir dari keshalehan pribadi-pribadi yang menshalehkan. Dan
sudah saatnya mengulangi sejarah pemimpin-pemimpin kuat dan sholeh masa lalu
sesuai janji Allah Swt.
“Oleh karena itu, sejak dulu hingga
sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda
adalah rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar
panji-panjinya.” (Hasan
al-Banna)